Jumat, 29 November 2013

THE WAY

kata mereka ini adalah sebuah kesalahan, kata mereka ini adalah akhir, kata mereka ini adalah fatal.
tapi bagiku, ini memang kesalahan, untuk mengawali sesuatu yang bisa ditawar keindahannya.  kesalahan memang buruk, tapi bagiku suatu pembayaran.....lebih baik berbuat salah dan melangkah daripada harus berdiam diri dan pasrah tanpa melangkah, percepatan bagi sebuah kebebasan harapan adalah keutamaan diantara segala hal yang urgent. Tuhan memberi kita waktu 24 jam sehari, kadang terasa lama pada suatu saat namun akan terasa sebentar di saat yang lain. setelah hari ini masih disediakan hari esok oleh Tuhan, berusaha seakan besok kita masih hidup dengan fungsi tubuh lengkap sah-sah saja, 

kita belajar dari masa lalu dan kesalahan......semua orang bisa menyalahkan dan membenarkan apa yang kita buat. bagi kita apa yang kita lakukan adalah apa yang kita yakini saat itu untuk dilakukan.  resiko dari setiap tindakan pasti ada hanya besarannya saja berbeda. Jadi untuk apa kita selalu memikirkan sebuah resiko sebelum bertindak. percaya atau tidak ketika kita terlalu memikirkan resiko, maka apa yang akan kita lakukan adalah NOL BESAR.karena kita terlalu sibuk memikirkan apa yag akan terjadi setelah "seandainya" kita melakukan apa yang kita mau, akhirnya kesempatan dan waktu juga semangat bertindak hilang seiring semakin ketakutannya kita pada apa yang akan berlaku besok setelah "seandainya" dilakukan

orang lain bisa saja menyalahkan apa yang kita anggap benar, sangat mudah. tp mereka tidak tahu hidup kita, jadi tipsnya adalah, dengarkan saja apa katanya, resapi kembali ketika kau membutuhkannya.  ketika kau mendengarkan sambil meresapi maka keraguan yang akan kau dapat. orang lain boleh pikir kita adalah orang yang keras kepala. tapi apa hak mereka mengatur apa yag kita lakukan? toh kita yang akan memetik resikonya. orang lain punya pilihan terhadap hidup kita, mereka mengurusi apa yang hendak kita lakukan dan mereka akan tahu resikonya ketika kita mendapatkannya dan ikut merasakan atau mereka diam dan tidak usah ambil pusing lalu mereka aman-aman saja dari ancaman resiko yang akan kita terima, mudah bukan? hidup itu cuma sekali dan berjuta orang sudah bilang bahwa Tuhan tidak pernah memberikan ujian diluar batas kemampuan hambanya, lalu apa yang kita takutkan? toh Tuhan saja sudah sangat memanja kita, dan Tuhan tidak akan menciptakan suatu perubahan kecuali insan itu merubahnya sendiri, lalu untuk apa kita selalu mengandalkan orang lain untuk memberikan perubahan dalam hidup kita,  mereka bisa saja sesuka hati datang dan pergi lalu kau masih tetap sendiri sebelum dan sesudahnya.  mana yang lebih baik dengan kau brtindak atas nama sendiri lalu kau buat perubahan dan orang lain datang dan pergi dari hidup kita meninggalkan kesan dan kita tak sendirian lagi. :)

percaya atau tidak boleh saja, ketika orang lain melihat perbuatan kita salah, maka mereka akan terus berpikir bahwa kita hampir tidak pernah memiliki sebuah tindakan yang bisa untuk dibenarkan. jadi, jangan terlalu percaya pada penilaian orang begitu saja. kesan orang sangat berbeda. ketika pendewasaan sudah terjadi pada diri kita maka kita punya range orang mna yang harus dipercayai dan mana yang tak bisa dipercaya. fine

HIDUP CUMA SEKALI, BERBUAT KESALAHAN BUKAN PERBUATAN SIA-SIA TUHAN MENYIAPKAN PINTU MAAF, DIA PEMAAF TERHEBAT YANG PERNAH ADA, DAN BERBUAT KESALAHAN BUKAN MENYIA-NYIAKAN HIDUP. BERBUAT SALAH-LAH SEBANYAK MUNGKIN ASAL KAU BISA AMBIL PELAJARAN DARI RESIKONYA......

Minggu, 10 November 2013

?___?

Kedudukan seseorang dalam masyarakat menentukan dirinya untuk menjadi eksis atau tersembunyi dari mata masyarakat. Namun kenyataannya susah untuk menjadi orang yang eksis karena sesuatu yang baik.  Kebanyakan dari orang -orang yang terpandang dlam hadapan kita adalah orang yang cenderung melakukan sesuatu out of order. meski ada tapi perbandingannya jauh dari yang terpikirkan oleh kita

meski bukan dalam kehidupan bermasyarakatpun, di lingkungan kerja..... pernah atau pernah anda menemui orang yang harusnya terhormat karena berada di atas jajaran kita, nyatanya menjadi kebencian dalam diri kita. entah karena tindak tanduknya atau karena ada hal yang tidak bisa seiring dengan kehendak kita dan teman-teman sejajar kita.

hmm terutama jika dia terus bersinggungan dengan pekerjaan kita setiap hari, bukan layaknya seorang mandor, yang hanya meninjau pekerjaan kita tiap beberapa hari sekali,

amanah memang susah untuk di jaga hakikatnya, namun amanah sangat mudah untuk disimpangkan sesuai dengan mau pemangku.  meskipun mengatas namakan bunyi perintah atasan atau bunyi amanah, namun hal seperti itu tetap saja benar-benar salah menurut pandangan kita.... "Ojo Dumeh" , punya kekuasaan lalu sewenang-wenang terhadap bawahan, atau "Ojo Dumeh" atasan maka tidak respect terhadap apa yang dikatakan oleh bawahannya.  bahkan seharusnya atasan dan bawahan ini tidak ada batasannya dalam hal kemanusiaan.  harus saling respect sehingga kemajuan perusahaan dapat di sengkuyung bersama tanpa memeras dan mengeksploitasi satu pihak di antaranya

perbaikan management dan etika kerja sudah seharusnya menjadi suatu kegiatan pembaruan yang berkelanjutan tanpa terputus.. bukan hanya atasan yang terus menuntut untuk karyawannya bekerja sebaik-baiknya...semestinya sebelum karyawan mengeluhkan apa yang selalu menjadi tuntutan dari atasannya itu, sang atasan harusnya tahu bagian mana yang seharusnya menjadi bahan perbaikan dalam dirinya, JANGAN HANYA MENUNTUT ORANG LAIN HARUS RESPECT DAN QUICK RESPON TERHADAP PERINTAHNYA, seharusnya ATASANJUGA HARUS QUICK RESPON TERHADAP KELUHAN KARYAWANNYA

Yuk..belajar mengaca diri, suatu saat Tuhan mengabulkan mimpiku...semoga Dia selalu ingatkan aku dengan tulisan ini.....ga cuma orang lain harus respect sama kita, kita juga sangat harus respect terhadap orang lain...dalam sebuah kerja sama.......

Kamis, 07 November 2013

kisah

terlalu banyak hal terjadi dalam hidupku selama ini, hidup ku sendiri, orang -orang disekelilingku, orang yang kusayangi, rasanya aku ikut merasakan dampaknya.  namun selagi aku masih sanggup menghembuskan nafas aku masih bersedia untuk menanggungnya.

diusia yang sudah tidak bisa dibilang ABG, semua orang akan menentukan kemana harus membawa kehidupan dewasanya nanti. Bersama siapa akan ia habiskan sisa hidupnya, apa saja rencana yang akan ia wujudkan di depan nanti. Namun sekarang ini belum ada terlintas dalam benakku siapa orang yanng kira2 Tuhan telah siapkan untuk ku, sedang ku upayakan adalah mengamini kesialan orang....buakan bermaksud jelek, atau memang sbenarnya ini begitu jahat untuk sebagian orang.....namun kami menginginkannya.

Allah tidak pernah memperbolehkan orang tua kita mewariskan sesuatu kecuali yang baik-baik.  Namun ketika kita ternyata diwarisi sebuah dendam, apa yang harus kita perbuat?,  Itu bukan lah suatu warisan yang bisa disebut baik tentu saja.  Keegoisan orang-orang terdahulu tidak bisa diturun temurunkan kepada anak cucunya, dan tentu saja itu akan berdampak negatif bagi kehidupan anak cucunya.

"Kami sedang memperjuangkan apa yang kami inginkan, dendam dan keegoisan ini seharusnya tidak diwariskan pada kami,  Toh, semua itu sudah dipatahkan oleh orang yang ada diatas generasi kami.  Seharusnya semua ini sudah berakhir.  Bayangkan bagaimana terlukanya orang yang menjadi korban pertama dari keegoisan ini? Aku sangat yakin mereka terluka dan tidak ingin membuat murka keluarganya sehingga mereka menyembunyikannya seolah tidak ada sesuatu yang pernah terjadi dan melukainya,  Ayah, Ibu, apa iya kami harus mengalaminya lagi. Hal-hal yang pernah kau sedihkan sampai saat ini?"\

Disetiap Dhuha q selalu ku pinta, Robbi, hilangkanlah segala dendam dan benci keluarga kami, sehingga kami menuju ke jalan dimana seharusnya kami berada, Sesungguhnya Hanya Engkau Maha Tahu segala Hati. Demi kebaikan dhuha-Mu ya Robb...kabulkanlah pinta q yang sungguh tak punya daya selain dari Kuasa-Mu...Amiin ya Robbal Alamiiin"